Ratna Azizah, S.Pd. M.Pd.
Di bawah langit yang muram dan kelabu,
Aku berjalan dengan kaki yang berlumur debu.
Telah jauh kutinggalkan jejak-jejak cahaya,
Menukar tenang dengan bisingnya dosa yang fana.
Tangan ini hitam, menggenggam bara yang kukira permata,
Hingga nurani terkubur, sunyi di balik tumpukan dusta.
Kini, di persimpangan jalan yang kian sunyi,
Ada degup yang asing, merambat pelan ke dalam hati.
Ia adalah rindu….yang datang tanpa mengetuk pintu,
Memanggil namaku dengan suara parau yang membiru.
Rindu pada sujud yang dulu pernah terasa sejuk,
Rindu pada ampunan di tengah malam yang khusyuk.
Namun langkahku tertahan, berat oleh beban yang kupikul,
Melihat jubahku yang koyak, oleh maksiat yang kian memukul.
Aku takut menatap pintu-Mu yang suci dan megah,
Sedang diriku hanyalah bangkai yang dibalut amarah.
Bagaimana mungkin wajah penuh noda ini menghadap,
Sedang setitik cahaya-Mu sanggup membuatku lenyap?
Aku berpagut rindu, namun dalam diam aku memendam rasa,
Antara keinginan untuk pulang dan rasa malu yang menyiksa.
Aku ingin kembali ke jalan-Mu yang terang benderang,
Tapi bayang-bayang hitamku seolah enggan untuk lekang.
Di ambang pintu-Mu, aku berdiri dengan tubuh bergetar,
Membawa rindu yang besar, namun nyali yang kian memudar.
“Tuhan, biarkan rindu ini tetap menyala meski hanya sebagai bara,
Karena hanya dengan mengingat-Mu, hatiku yang mati kembali merasa.
Meski aku takut melangkah, jangan biarkan aku benar-benar menjauh,
Dari kasih-Mu yang luas, tempat jiwa-jiwa yang kotor bersimpuh.
Ulasan:
Puisi Berpagut Rindu Memendam Rasa karya Ratna Azizah, S.Pd., M.Pd. menghadirkan nuansa religius yang sangat kuat dan menyentuh batin. Melalui pilihan diksi yang puitis dan penuh makna, puisi ini menggambarkan pergulatan jiwa seseorang yang merasa jauh dari Tuhan, namun diam-diam menyimpan kerinduan besar untuk kembali kepada-Nya. Tema tentang dosa, penyesalan, dan harapan akan ampunan disampaikan dengan sangat mendalam sehingga mampu menggugah emosi pembaca.
Keindahan puisi ini juga terlihat dari penggunaan metafora seperti “bara”, “langit kelabu”, dan “jubah yang koyak” yang memperkuat suasana batin tokoh aku dalam puisi. Rasa takut, malu, dan rindu kepada Tuhan berpadu menjadi refleksi spiritual yang menyadarkan bahwa kasih sayang Allah selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin kembali.
Secara keseluruhan, puisi ini bukan hanya karya sastra yang indah, tetapi juga menjadi renungan tentang pentingnya taubat, harapan, dan keyakinan bahwa cahaya hidayah selalu mampu menerangi hati yang ingin pulang.
