IMG_20260518_181113
Luka yang Tak Terlihat

Nur Laila Salsabila

 

Mereka lempar kata seperti batu,
Tajam, kasar, tanpa bertanya.
Kau diam, menelan setiap tawa,
Padahal hatimu pelan-pelan retak.

Sekolah yang dulu jadi tempat tumbuh,
Kini terasa sempit dan dingin.
Setiap langkah terasa diawasi,
Takut salah, takut jadi bahan.

Tapi ingat, badai tak selamanya,
Langit juga pernah mendung kelabu.
Suara mereka bukan suara kebenaran,
Kau berharga, walau mereka tak paham.

Angkat kepalamu, tarik napas dalam,
Kebaikan lebih kuat dari ejekan.
Suatu hari kau akan berdiri tegak,
Dan luka itu jadi cerita yang kau menangkan.

 

Ulasan:

Puisi “Luka yang Tak Terlihat” karya Nur Laila Salsabila sangat menyentuh karena menggambarkan luka batin akibat bullying dengan bahasa yang sederhana tetapi penuh rasa .
Tema yang diangkat begitu dekat dengan kehidupan remaja: tentang ejekan, rasa takut, dan kesepian yang sering tidak terlihat oleh orang lain.

Larik pembuka:

“Mereka lempar kata seperti batu,”

langsung memberi gambaran kuat bahwa kata-kata bisa melukai sama sakitnya dengan kekerasan fisik. Banyak kampanye pendidikan anti-bullying juga menekankan bahwa perundungan verbal meninggalkan luka emosional yang mendalam dan sering tersembunyi.

Puisi ini terasa semakin hidup ketika menggambarkan sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuh justru berubah menjadi ruang yang menakutkan:

“Kini terasa sempit dan dingin.”

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat kuat secara emosional. Pembaca bisa ikut merasakan ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak nyaman yang dialami korban bullying.

Namun keindahan puisi ini bukan hanya pada lukanya, melainkan juga pada harapannya 
Bagian akhir puisi memberi pesan penyembuhan dan kekuatan:

“Kebaikan lebih kuat dari ejekan.”

Pesan ini penting sekali karena mengajarkan bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh hinaan orang lain. Banyak poster dan kampanye anti-bullying modern juga memakai pendekatan empati dan penguatan mental seperti ini agar korban merasa didengar dan tidak sendirian.

Secara keseluruhan, puisi ini bukan sekadar tentang kesedihan, tetapi tentang keberanian untuk bangkit.
Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa:

luka batin memang tak selalu terlihat,
tetapi setiap hati tetap pantas dihargai

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait