IMG_20260521_075446
Ruang yang Mengajari Kita Dewasa

Sifa Nur Fadila

 

Bel berbunyi, lari-lari kecil,
tas berat, tapi hati ringan.
Papan tulis penuh coretan rumus,
yang tak hanya soal angka, tapi juga cara berpikir.

Jam istirahat jadi surga kecil,
gorengan hangat, tawa yang pecah.
Di bangku belakang ada rencana konyol,
di depan ada mimpi yang diseriusin.

Guru marah bukan karena benci,
tapi karena mau kita ngerti.
Teman berantem siang, sore udah baikan,
begitulah caranya belajar memaafkan.

Kelak kita akan rindu tempat ini,
bukan gedungnya, tapi rasanya.
Rasa takut salah, rasa ingin tahu,
dan rasa bahwa semua masih mungkin.

 

Puisi “Ruang yang Mengajari Kita Dewasa” karya Sifa Nur Fadila menghadirkan suasana sekolah dengan cara yang hangat, sederhana, namun sangat menyentuh. Penyair berhasil menggambarkan kehidupan sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar pelajaran, tetapi juga tempat tumbuhnya pengalaman, persahabatan, dan proses menjadi dewasa. Detail-detail kecil seperti bunyi bel, gorengan saat istirahat, hingga candaan di bangku belakang membuat puisi ini terasa dekat dan nyata bagi pembaca.

Keistimewaan puisi ini terletak pada cara penyair memaknai sekolah sebagai ruang pembentukan karakter. Guru, teman, pertengkaran, bahkan rasa takut salah digambarkan sebagai bagian penting dari proses belajar kehidupan. Penutup puisi menjadi bagian paling kuat karena mengingatkan bahwa suatu hari nanti yang dirindukan bukan sekadar gedung sekolah, melainkan perasaan dan kenangan yang tumbuh di dalamnya. Puisi ini sederhana, reflektif, dan penuh nostalgia, sehingga mampu menyentuh hati pembaca, terutama para pelajar.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait