WhatsApp-Image-2026-08-13-at-12.51.00-2-1
Satu Pohon, Sejuta Makna: Gerakan Ekoteologi Kolaboratif Hadir di Desa Dadapan

Semangat menjaga alam sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui kegiatan Gerakan Ekoteologi Kolaboratif di Desa Dadapan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Kamis (13/8/2026). Kegiatan yang mengusung semangat “Satu Pohon, Sejuta Makna” ini menjadi ruang kolaborasi antara Kementerian Agama Kabupaten Rembang, MTs Negeri 2 Rembang, Pemerintah Kecamatan Sedan, Pemerintah Desa Dadapan, KUA Sedan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kelompok tani, perguruan tinggi, serta satuan pendidikan yang ada di Desa Dadapan.


Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Kepala MTs Negeri 2 Rembang, perwakilan DLH Kab. Rembang, Camat Sedan, Kepala KUA Sedan, jajaran Perangkat Desa Dadapan, Kelompok Wanita Tani Sekartani Arum Desa Dadapan, mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta serta guru dan siswa SD/MI yang berada di wilayah Desa Dadapan.


Dalam sambutannya, Kepala Desa Dadapan, Zuber, menyampaikan bahwa keberadaan pohon kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Kelapa tidak hanya menghasilkan buah, tetapi hampir seluruh bagian pohonnya dapat memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Ia mencontohkan pemanfaatan lidi dari daun kelapa yang dapat diolah menjadi berbagai bentuk kerajinan, salah satunya menjadi piring makan. Selain itu, buah kelapa juga dapat diolah menjadi berbagai produk, termasuk minyak goreng.
Menurut Zuber, gerakan penanaman pohon tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Menanam hanyalah langkah awal yang harus diikuti dengan perawatan dan pemeliharaan.
“Penanaman pohon jangan hanya sekadar seremonial. Harus ada follow up-nya. Kesinambungan bukan hanya menanam, tetapi juga merawat tanaman.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan gerakan lingkungan tidak diukur dari berapa banyak bibit yang ditanam pada hari ini, tetapi dari seberapa banyak tanaman yang mampu tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat di masa mendatang.

Sementara itu, Kepala MTs Negeri 2 Rembang dalam paparannya memperkenalkan konsep Ekoteologi sekaligus program MELATI (Madrasah Ekoteologi Lestarikan Alam Tingkatkan Iman) yang dikembangkan di lingkungan madrasah.
Ekoteologi dipandang bukan semata-mata sebagai gerakan penghijauan, melainkan sebuah pendekatan yang menghubungkan kepedulian terhadap alam dengan nilai-nilai keimanan. Merawat lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang diberi amanah untuk menjaga bumi.
Dalam konteks tersebut, MTs Negeri 2 Rembang memilih pohon kelapa sebagai salah satu ikon gerakan. Kelapa dipandang memiliki kedekatan yang kuat dengan kehidupan masyarakat. Hampir seluruh bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan, mulai dari akar, batang, daun, lidi, sabut, tempurung, hingga buahnya.

Kelapa juga memiliki nilai budaya dan sosial yang kuat di tengah masyarakat. Dari satu pohon dapat lahir berbagai manfaat, karya, produk, bahkan peluang ekonomi. Karena itu, kelapa menjadi simbol yang tepat untuk menggambarkan semangat “satu pohon, sejuta makna”—satu tanaman yang mampu menghadirkan begitu banyak manfaat bagi kehidupan.

Penguatan terhadap gerakan tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, H. Moh. Mukson, S.Ag., M.Pd.I Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa Ekoteologi merupakan salah satu program Kementerian Agama yang perlu diterjemahkan dalam aksi nyata di tengah masyarakat.
Di Kabupaten Rembang, semangat tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui berbagai gerakan, salah satunya MELATI, sebagai bentuk implementasi ekoteologi yang mengajak warga madrasah dan masyarakat untuk tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga bergerak secara nyata.
Kolaborasi yang terbangun dalam kegiatan di Desa Dadapan menjadi bukti bahwa gerakan menjaga lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Madrasah, pemerintah, perguruan tinggi, kelompok masyarakat, kelompok tani, dan generasi muda memiliki peran masing-masing untuk membangun kesadaran ekologis secara bersama-sama.


Penyerahan Bibit Secara Simbolis
Sebelum prosesi penanaman dimulai, dilakukan penyerahan bibit pohon kelapa secara simbolis kepada Mohammad Ariq Nabhan Fathi, selaku Ketua Kelompok KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di Desa Dadapan.
Penyerahan bibit tersebut menjadi simbol dimulainya kolaborasi nyata dalam gerakan penghijauan dan penguatan ekoteologi di Desa Dadapan. Bibit yang diserahkan bukan sekadar tanaman untuk ditanam, tetapi menjadi simbol amanah, kepedulian, dan keberlanjutan.
Dari sebuah bibit yang kecil diharapkan tumbuh pohon yang besar, memberikan keteduhan, menghasilkan manfaat, dan kelak dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menanam adalah bentuk ikhtiar hari ini, sedangkan merawat adalah bentuk tanggung jawab untuk masa depan.
Melalui gerakan ini, semangat Ekoteologi tidak berhenti pada wacana. Ia diterjemahkan menjadi tindakan nyata: menanam, merawat, memanfaatkan, mengedukasi, dan menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama menjaga alam.


Satu pohon mungkin terlihat kecil. Namun ketika ditanam bersama, dirawat bersama, dan diwariskan kepada generasi berikutnya, ia dapat menjadi awal dari sejuta manfaat.

Satu Pohon, Sejuta Makna. Bergerak bersama, berdampak untuk sesama.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait